Senin, 13 Oktober 2014

Sisi Lain Bullying Bukittinggi

Sumber : fanpop.com

 Aksi kekerasan pelajar /bullying yang terekam video dan beritanya marak beberapa hari terakhir, tampaknya menyentak dunia pendidikan negeri ini. Kekerasan fisik itu terjadi pada siswi kelas V, sebuah SD swasta di Bukittinggi. Menurut beritanya, tempo, dan republika, bullying itu terjadi saat jam pelajaran agama, di dalam mushala pula. Tragis dan menyedihkan memang menyaksikan video tersebut.

Kita -sebagai guru sekaligus orang tua- tentu resah dengan berita dan kejadian seperti ini. Beruntun pertanyaan muncul kemudian, Apakah sekolah tak lagi aman? Kenapa guru tak tau ada kejadian bullying di ruangannya mengajar? Inikah efek sertifikasi, guru tak maksimal mendidik, hanya peduli "jam-jam pelajaran", dan lain sebagainya.

Sebagai seorang pendidik, perlu diakui, ada salah dan khilaf si guru dalam kasus ini. Lalai dan tidak mengelola kelas dengan baik. Tak memantau semua aktifitas 'kreatif' siswa. Apalagi untuk siswa usia sekolah dasar kelas V itu. Mereka sedang asik-asiknya berkawan, sedang candu pula 'bacakak'. Atas kelalaian tersebut, pantaslah ada sanksi terhadap si guru, mungkin juga pihak sekolah.

Terlebih lagi, ybs adalah guru Agama. Guru yang secara moril menanggung beban dunia akhirat. Memberi ilmu, agar selamat keyakinan anak didiknya. Mengajarkan sikap dan tata krama yang sesuai dengan tuntunan. Bila terjadi pada siswa salah ucap (berkata kotor), salah sikap ('bacakak', melawan ke guru, bahkan ke orang tua), guru agamanya jugalah yang akan ditanya. Sia guru ang di sakola! atau, Ndak diaja guru ang di sakola! (Siapa guru. tidakkah diajar guru. dsb).

Namun demikian, dapat pula dijadikan pertimbangan bersama, agar kesalahan ini tak semata-mata tertuduh kepada si Guru Agama. Secara sosial, karakter siswa SD swasta tersebut, dipengaruhi oleh budaya 'pasar' yang "Sia bagak, inyo nan manang" sebagaimana yang dilihat nyata oleh siswa-siswi itu sehari-hari di lingkungannya. SD ini terletak di Tengah Sawah, dekat dengan Pasar Bawah, dengan pekerjaan rata-rata orang tua mereka, barangkali adalah dagang. Lingkungan dan latar belakang orang tua, jelas memberi pengaruh besar atas tercapai atau tidaknya pembelajaran yang telah diberikan oleh guru di sekolah.

Sumber : Lassen.mrooms.org
Hal lain, kejadian antar siswa itu tentu ada mula ceritanya. Tak akan terjadi pukul memukul kawan, bila tak ada sebab sebelumnya. Menurut informasi yang beredar, aksi tendang itu bermula dari saling ejek dan menyamakan orang tua dengan "sepatu'. Lalu, video yang direkam oleh salah seorang siswa itu, diunggah ke media sosial, agar orang lain tau, demikian betul kejadian dalam kelas. Ini sungguh memalukan.

Memalukan guru, sekolah, dan pendidikan secara umum. Memalukan, si siswa -pemukul- yang tak cerdas, menanggapi ejekan yang lumrah terjadi di kalangan anak sekarang. Tak jauh-jauh, lihatlah tontonan televisi yang dipenuhi dengan ejekan, cemoohan, saling bully yang diakhiri dengan gelak tawa. Mau bagaimana lagi, benar demikian konsumsi anak-anak kita.

Memalukan, masih saja hari-hari ini, ada ejekan yang membawa serta -siapa orang tua, siapa keluarga- bukan pula siapa saya. Kejadian 'cakak gadang' antar kampung, antar orang dewasa biasanya juga bermula dari ejek-ejek dan adu-mengadu. Jangankan masyarakat daerah, yang sering kita dengar beritanya di televisi, mahasiswa bahkan anggota dewan yang terhormat pun, berlaku demikian. Tak cerdas berbahasa, budaya kekerasan yang dikeluarkan. Begitulah bangsa kita. Masihkah, tertohok semua kesalahan itu pada si guru (agama).

Memalukan. Bagaimana sikap kita pada si pengunggah video? Akan belajar dari cara itukah masyarakat kita, juga para orang tua yang bisa jadi tak memahami sistem, telah menitipkan anaknya, lalu ingin menghancurkan? 

sumber : 2.bp.blogspot.com
Bullying
Sebelumnya Bukittinggi dikenal sebagai kota pendidikan dan berbudaya. Tak akan ada yang memungkiri jika dihitung persentase, tetua bangsa ini, pelaku perjuangan, cendekiawan dan proklamator dari kota inilah pendidikannya bermula. Namun kemudian satu-satu kasus pendidikannya mengoyak imej yang dijaga oleh berbagai elemen pendidikan selama ini. Sungguhpun prestasi telah ditorehkan, tetap saja catatan hitam, kasus-kasus mencoreng muka warga, pemerhati pendidikan apalagi pengambil kebijakan kota ini. PR besar bagi pendidikan karakter kita sesungguhnya.


Berbenah untuk pendidikan lebih baik, tentu menjadi prioritas kita. Namun, sekali lagi, jangan lemparkan kesalahan itu, semata-mata kepada si guru. Bercerminlah, sudahkah kita berujar sopan dan santun dalam keluarga. Adakah perhatian terhadap sikap, perkembangan jiwa, dan kelakuan anak-anak kita di rumah. Maksimalkah kita menjalankan amanah Tuhan, dititipi anak agar dididik dengan baik. Lalu anak itu dititipkan pula kepada sebuah lembaga, secara penuh. Berbanding berapa waktu si anak dengan guru, dan si anak dengan orang tua? Entahlah.


Sabtu, 04 Oktober 2014

Sarapan Siswa

Pernahkan Anda, selaku seorang guru mata pelajaran bertanya : "Siapa yang tidak sarapan tadi pagi?"

Pertanyaan itu bagi saya, cukup mengantarkan kedekatan seorang guru dengan siswanya. Lebih lagi, jika guru itu diamanahkan sebagai wali kelas. Dengan satu pertanyaan itu, kita kemudian bisa tahu lebih banyak, kenal lebih dalam siapa sebetulnya sang siswa yang akan dibuat belajar di sekolah.

Suatu kali, saya bertanya kepada seisi kelas, Siapa yang tadi pagi tidak sarapan. Di antara 33 siswa, yang mengangkat tangan hanya 12 orang, rata-rata perempuan. Selebihnya beralasan:
a. tidak sarapan, karena tidak sempat
b. tidak sarapan karena, orang tua tidak memasak
c. tidak sarapan karena tidak biasa.

Tindak lanjut untuk pertanyaan itu, saya bercerita dengan beberapa orang siswa pada waktu istirahat mereka. Saya tanyakan, kenapa tidak sarapan, sebelumnya ia termasuk kelompok yang menjawab tidak biasa. Kenapa tidak biasa, saya tanyakan lagi. Karena orang tuanya tidak memasak di pagi hari, sejak ia kecil. Apa pekerjaan orang tua? tanya saya. Ayahnya sudah tak bekerja. Dulu kerjanya bertukang. Sekarang, lebih sering hanya mengantar adik kecilnya ke sekolah, dan menjemputnya. Itu saja. Lalu, ibu, apa pekerjaannya? Ibu sudah lima tahun terakhir sakit, terserang stroke. Tak bisa bekerja apa-apa.
Lalu, dari mana sumber uang? Saya yang bekerja, katanya.

Apa pekerjaannya? Tukang parkir. Ia bekerja di pasar sayur sepulang sekolah. Maka jangan heran, bila dalam tasnya pada hari-hari tertentu akan ditemukan baju kaos rumahan. Karena sepulang sekolah ia akan langsung ke pasar tanpa pulang dulu ke rumah. Sampai jam berapa bekerja? Ia akan bekerja sampai menjelang tengah malam. Jika ia tak ada kawan yang akan menemani pulang, maka lepas subuh ia kembali ke rumah. Membawa sekitar 50 sd 100 ribu rupiah untuk kehidupan keluarganya.

Kapan makan? saya bertanya lagi. Makan kadang ketika di pasar (malam hari). Atau kalau tak dapat, ia akan makan di sekolah lagi. Saat pergantian jam pelajaran. Berharap saat ia pulang ada yang akan dimakan?? tentu tidak. Karena yang dibawanya pulang hanyalah uang. Syukur-syukur kalau ia sempat belanja, dan memasakkan untuk adik-adiknya. Kalau tidak, uang itu sajalah yang akan diberikannya kepada ibunya. Susah payah pula ibunya akan memasak untuknya beradik tiga itu.

Maka, sekedar "sarapan pagi"kah yang akan dijawabnya?? Ini jelas lebih rumit dari sekedar sarapan pagi.

Wahai. Demikian benar alam ini buat belajar anak manusia. Satu per satu saya kenali siswa, dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati, kemudian miris, sedih, dan entahlah.

Waktu belajar yang benar-benar menyita ini, ingin saya kurangi, untuk mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin juga, untuk mereka yang bisa mengabdi, dan berorganisasi bersama masyrakat. Atau berkreatifitas pada hobi positifnya. Sayang sekali, sekolah bukan punya kita. Kurikulum juga sudah demikian membebankan komponennya. Sesungguhnya, sekolah bukanlah di sekolah saja. Sekolahkanlah sosialmu di masyarakat. Sekolahkan hati dan keyakinan di mesjid atau surau. Sekolahlah di alam, dengan kenyataan, bahwa sebagian mereka jangankan memikirkan sarapan, untuk kehidupanlah yang ditanggungkan.


Pengotakan Siswa yang Diskriminatif

Inilah kenapa saya kadang tak sepakat dengan pengotakan siswa menjadi kelas unggul satu, kelas unggul dua, dan seterusnya. Seakan-akan ada kesempatan bagi guru dan siswa untuk mengotak kotakkan dirinya masing-masing, untuk sekedar memuji atau mencaci kepada kelompok mana mereka termasuk. Unggulkah, atau sebaliknya.


Sekolah-sekolah negeri di Indonesia saat ini secara umum menggunakan sistem kelas. Kelas dalam hal ini dapat dipahami dengan sekelompok siswa yang menghadapi sejumlah mata pelajaran tertentu di sekolah. Kelas kemudian dibimbing oleh sejumlah guru mata pelajaran dan satu orang wali kelas.

Jumlah siswa dalam satu kelas kecil mencapai 25 siswa, sedangkan untuk kelas besar hanya diizinkan sebanyak 32 orang siswa. Namun tak sedikit sekolah yang berani mengambil resiko, melebihkan isi kelas dari standar yang telah ditetapkan. Memadatkan lagi dan "menambah bangku". Dengan jumlah 25 orang siswa, suasana belajar kelas tentu akan lebih kondusif. Tidak terlalu ribut, tak banyak 'cencong' pula.

Pada kelas dengan jumlah 32 orang siswa, tentu sebanyak kepala pula-lah laku dan perangai siswa. Jika pada kelas rata-rata (kelas yang tidak dikotak-kotak menjadi kelas unggul) maka dapat diperkirakan, sepertiga adalah siswa baik-baik, sepertiga lagi mereka yang biasa-biasa saja, dan sepertiga sisanya adalah siswa yang mungkin bisa dikategorikan berkebutuhan (perhatian) khusus. Sekali lagi, ini jika kelas tersebut merupakan kelas netral (perpaduan siswa unggul dan biasa).

Perhitungan menjadi berbeda, jika siswa diklasifikasikan berdasarkan kemampuan kognitif. Siswa dengan rangking 1-10 di kelas pertamanya, pada tingkat berikut akan digabung dengan kemampuan yang sama, dan dilabel dengan (unggul) 'satu'. Kemudian, siswa dengan rangking 11-20 pada kelas sebelumnya, akan digabung sesamanya pada kelas 'dua'. Maka isi kelas 'tiga' jelaslah mereka dengan rangking 21-akhir pada kelas sebelumnya.

Yang pertama saya nyatakan di sini adalah ketidak setujuan pada sistem 'rangking'. Tapi soal ini akan kita bicarakan di lain tulisan. Nah, munculnya tulisan ini adalah pada perkara kedua, kelas unggul satu dan dua, dan kelas 'tiga', ini yang meresahkan saya.

Bisa jadi pertimbangan mereka yang mengambil kebijakan adalah, agar siswa sesamanya akan mendapatkan motivasi belajar lebih jika bergabung denga kemampuan yang berimbang dengan siswa tersebut. Itu baru 'bisa jadi'. Teori bisa jadi saya juga memungkinkan. Bisa jadi, untuk kelas unggul, yang masing-masing siswanya sudah memiliki motivasi, tak butuh suntikan motivasi lagi dari guru dan kawan-kawannya. Karena obsesi yang mendesak dalam jiwa dan pikiran mereka sudahlah kuat.

Hal itu berkebalikan dengan kondisi kelas 'tiga'. Kelas dimana, para siswa 'kreatif ' berkumpul. Mereka yang kreatif mencari jalan pintas, agar tugas tak ribet, waktu tak banyak 'terbuang', guru tak bertahan lama di kelas, dan selalu ada 'tawa' yang menghidupkan suasana. Kondisi ini membuat sebagian guru gerah. Tak siap menghadapi siswa 'berkebutuhan khusus' tersebut. Maka sebagiannya, memberi label 'nakal', bahkan 'kurang ajar' kepada siswa multi ide itu.

Konsekuensinya adalah, perlakuan diskriminatiflah yang diterima siswa. Beruntunglah mereka yang berada di unggul satu, dan merugilah mereka yang berada di 'unggul' tiga. Ibarat pepatah, berkawan dengan penjual minyak wangi, wangi pula lah kita. Berkawan dengan pandai besi mungkin pula terbakar baju dibuatnya. Dinamika kelas menjadi tak imbang. Kemampuan analisa tak beragam.

Ini adalah kali kedua bagi saya mendapat jatah 'mengasuh' kelas khusus. Meski dengan sebab yang berbeda, secara umum yang bermasalah dengan kelas unggul 'tiga' ini adalah motivasi belajar, di samping kompleknya persoalan yang dihadapi masing-masing anak.

Sayangnya, sedikit diskriminatif juga terlihat pada penjadwalan. Mata pelajaran pokok, diberikan pada waktu-waktu yang tepat pada kelas unggul. Apalah yang terpikir bagi 'unggul tiga' belajar matematika pada jam sembilan dan ke sepuluh sekitar jam 2 sd 4 siang. Ah, semua kadang tak sama terpikirkan - dipertimbangkan.

Saya membayangkan, jika satu kelas terisi dengan 25 siswa dengan beragam kemampuan kognitif. Silakan saja, di sana ada juara satu 'kreatifnya', juara 1 olahraganya, juara satu pengabdian masyarakatnya, tak apa. Cukup bagi rata saja, beberapa menyukai matematika, menyukai pelajaran hafalan, dan lain sebagainya. Saya kira itu akan lebih mudah memunculkan kepercayaan diri siswa, bahwa mereka masing-masing memiliki kelebihan. Lebih menyenangkan menggali potensi dalam diri mereka, daripada mereka terkotak dan dapat perlakuan diskriminatif begitu.

Barangkali saya butuh waktu lebih banyak bersama mereka untuk bisa membangun motivasi belajar, mengetahui gaya belajar, membimbing cara belajar, mendengarkan persoalan-persoalan yang membenak hingga ke sekolah, dan tentu saja, butuh kerja sama dengan orang tuanya.dan, bagaimana hasilnya kemudian? Kita lihat saja.