![]() |
| Sumber : fanpop.com |
Aksi kekerasan pelajar /bullying yang terekam video dan beritanya marak beberapa hari terakhir, tampaknya menyentak dunia pendidikan negeri ini. Kekerasan fisik itu terjadi pada siswi kelas V, sebuah SD swasta di Bukittinggi. Menurut beritanya, tempo, dan republika, bullying itu terjadi saat jam pelajaran agama, di dalam mushala pula. Tragis dan menyedihkan memang menyaksikan video tersebut.
Kita -sebagai guru sekaligus orang tua- tentu resah dengan berita dan kejadian seperti ini. Beruntun pertanyaan muncul kemudian, Apakah sekolah tak lagi aman? Kenapa guru tak tau ada kejadian bullying di ruangannya mengajar? Inikah efek sertifikasi, guru tak maksimal mendidik, hanya peduli "jam-jam pelajaran", dan lain sebagainya.
Sebagai seorang pendidik, perlu diakui, ada salah dan khilaf si guru dalam kasus ini. Lalai dan tidak mengelola kelas dengan baik. Tak memantau semua aktifitas 'kreatif' siswa. Apalagi untuk siswa usia sekolah dasar kelas V itu. Mereka sedang asik-asiknya berkawan, sedang candu pula 'bacakak'. Atas kelalaian tersebut, pantaslah ada sanksi terhadap si guru, mungkin juga pihak sekolah.
Terlebih lagi, ybs adalah guru Agama. Guru yang secara moril menanggung beban dunia akhirat. Memberi ilmu, agar selamat keyakinan anak didiknya. Mengajarkan sikap dan tata krama yang sesuai dengan tuntunan. Bila terjadi pada siswa salah ucap (berkata kotor), salah sikap ('bacakak', melawan ke guru, bahkan ke orang tua), guru agamanya jugalah yang akan ditanya. Sia guru ang di sakola! atau, Ndak diaja guru ang di sakola! (Siapa guru. tidakkah diajar guru. dsb).
Namun demikian, dapat pula dijadikan pertimbangan bersama, agar kesalahan ini tak semata-mata tertuduh kepada si Guru Agama. Secara sosial, karakter siswa SD swasta tersebut, dipengaruhi oleh budaya 'pasar' yang "Sia bagak, inyo nan manang" sebagaimana yang dilihat nyata oleh siswa-siswi itu sehari-hari di lingkungannya. SD ini terletak di Tengah Sawah, dekat dengan Pasar Bawah, dengan pekerjaan rata-rata orang tua mereka, barangkali adalah dagang. Lingkungan dan latar belakang orang tua, jelas memberi pengaruh besar atas tercapai atau tidaknya pembelajaran yang telah diberikan oleh guru di sekolah.
![]() |
| Sumber : Lassen.mrooms.org |
Memalukan guru, sekolah, dan pendidikan secara umum. Memalukan, si siswa -pemukul- yang tak cerdas, menanggapi ejekan yang lumrah terjadi di kalangan anak sekarang. Tak jauh-jauh, lihatlah tontonan televisi yang dipenuhi dengan ejekan, cemoohan, saling bully yang diakhiri dengan gelak tawa. Mau bagaimana lagi, benar demikian konsumsi anak-anak kita.
Memalukan, masih saja hari-hari ini, ada ejekan yang membawa serta -siapa orang tua, siapa keluarga- bukan pula siapa saya. Kejadian 'cakak gadang' antar kampung, antar orang dewasa biasanya juga bermula dari ejek-ejek dan adu-mengadu. Jangankan masyarakat daerah, yang sering kita dengar beritanya di televisi, mahasiswa bahkan anggota dewan yang terhormat pun, berlaku demikian. Tak cerdas berbahasa, budaya kekerasan yang dikeluarkan. Begitulah bangsa kita. Masihkah, tertohok semua kesalahan itu pada si guru (agama).
Memalukan. Bagaimana sikap kita pada si pengunggah video? Akan belajar dari cara itukah masyarakat kita, juga para orang tua yang bisa jadi tak memahami sistem, telah menitipkan anaknya, lalu ingin menghancurkan?
![]() |
| Bullying |
Berbenah untuk pendidikan lebih baik, tentu menjadi prioritas kita. Namun, sekali lagi, jangan lemparkan kesalahan itu, semata-mata kepada si guru. Bercerminlah, sudahkah kita berujar sopan dan santun dalam keluarga. Adakah perhatian terhadap sikap, perkembangan jiwa, dan kelakuan anak-anak kita di rumah. Maksimalkah kita menjalankan amanah Tuhan, dititipi anak agar dididik dengan baik. Lalu anak itu dititipkan pula kepada sebuah lembaga, secara penuh. Berbanding berapa waktu si anak dengan guru, dan si anak dengan orang tua? Entahlah.


