Pernahkan Anda, selaku seorang guru mata pelajaran bertanya : "Siapa yang tidak sarapan tadi pagi?"
Pertanyaan itu bagi saya, cukup mengantarkan kedekatan seorang guru dengan siswanya. Lebih lagi, jika guru itu diamanahkan sebagai wali kelas. Dengan satu pertanyaan itu, kita kemudian bisa tahu lebih banyak, kenal lebih dalam siapa sebetulnya sang siswa yang akan dibuat belajar di sekolah.
Suatu kali, saya bertanya kepada seisi kelas, Siapa yang tadi pagi tidak sarapan. Di antara 33 siswa, yang mengangkat tangan hanya 12 orang, rata-rata perempuan. Selebihnya beralasan:
a. tidak sarapan, karena tidak sempat
b. tidak sarapan karena, orang tua tidak memasak
c. tidak sarapan karena tidak biasa.
Tindak lanjut untuk pertanyaan itu, saya bercerita dengan beberapa orang siswa pada waktu istirahat mereka. Saya tanyakan, kenapa tidak sarapan, sebelumnya ia termasuk kelompok yang menjawab tidak biasa. Kenapa tidak biasa, saya tanyakan lagi. Karena orang tuanya tidak memasak di pagi hari, sejak ia kecil. Apa pekerjaan orang tua? tanya saya. Ayahnya sudah tak bekerja. Dulu kerjanya bertukang. Sekarang, lebih sering hanya mengantar adik kecilnya ke sekolah, dan menjemputnya. Itu saja. Lalu, ibu, apa pekerjaannya? Ibu sudah lima tahun terakhir sakit, terserang stroke. Tak bisa bekerja apa-apa.
Lalu, dari mana sumber uang? Saya yang bekerja, katanya.
Apa pekerjaannya? Tukang parkir. Ia bekerja di pasar sayur sepulang sekolah. Maka jangan heran, bila dalam tasnya pada hari-hari tertentu akan ditemukan baju kaos rumahan. Karena sepulang sekolah ia akan langsung ke pasar tanpa pulang dulu ke rumah. Sampai jam berapa bekerja? Ia akan bekerja sampai menjelang tengah malam. Jika ia tak ada kawan yang akan menemani pulang, maka lepas subuh ia kembali ke rumah. Membawa sekitar 50 sd 100 ribu rupiah untuk kehidupan keluarganya.
Kapan makan? saya bertanya lagi. Makan kadang ketika di pasar (malam hari). Atau kalau tak dapat, ia akan makan di sekolah lagi. Saat pergantian jam pelajaran. Berharap saat ia pulang ada yang akan dimakan?? tentu tidak. Karena yang dibawanya pulang hanyalah uang. Syukur-syukur kalau ia sempat belanja, dan memasakkan untuk adik-adiknya. Kalau tidak, uang itu sajalah yang akan diberikannya kepada ibunya. Susah payah pula ibunya akan memasak untuknya beradik tiga itu.
Maka, sekedar "sarapan pagi"kah yang akan dijawabnya?? Ini jelas lebih rumit dari sekedar sarapan pagi.
Wahai. Demikian benar alam ini buat belajar anak manusia. Satu per satu saya kenali siswa, dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati, kemudian miris, sedih, dan entahlah.
Waktu belajar yang benar-benar menyita ini, ingin saya kurangi, untuk mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin juga, untuk mereka yang bisa mengabdi, dan berorganisasi bersama masyrakat. Atau berkreatifitas pada hobi positifnya. Sayang sekali, sekolah bukan punya kita. Kurikulum juga sudah demikian membebankan komponennya. Sesungguhnya, sekolah bukanlah di sekolah saja. Sekolahkanlah sosialmu di masyarakat. Sekolahkan hati dan keyakinan di mesjid atau surau. Sekolahlah di alam, dengan kenyataan, bahwa sebagian mereka jangankan memikirkan sarapan, untuk kehidupanlah yang ditanggungkan.
Pertanyaan itu bagi saya, cukup mengantarkan kedekatan seorang guru dengan siswanya. Lebih lagi, jika guru itu diamanahkan sebagai wali kelas. Dengan satu pertanyaan itu, kita kemudian bisa tahu lebih banyak, kenal lebih dalam siapa sebetulnya sang siswa yang akan dibuat belajar di sekolah.
Suatu kali, saya bertanya kepada seisi kelas, Siapa yang tadi pagi tidak sarapan. Di antara 33 siswa, yang mengangkat tangan hanya 12 orang, rata-rata perempuan. Selebihnya beralasan:
a. tidak sarapan, karena tidak sempat
b. tidak sarapan karena, orang tua tidak memasak
c. tidak sarapan karena tidak biasa.
Tindak lanjut untuk pertanyaan itu, saya bercerita dengan beberapa orang siswa pada waktu istirahat mereka. Saya tanyakan, kenapa tidak sarapan, sebelumnya ia termasuk kelompok yang menjawab tidak biasa. Kenapa tidak biasa, saya tanyakan lagi. Karena orang tuanya tidak memasak di pagi hari, sejak ia kecil. Apa pekerjaan orang tua? tanya saya. Ayahnya sudah tak bekerja. Dulu kerjanya bertukang. Sekarang, lebih sering hanya mengantar adik kecilnya ke sekolah, dan menjemputnya. Itu saja. Lalu, ibu, apa pekerjaannya? Ibu sudah lima tahun terakhir sakit, terserang stroke. Tak bisa bekerja apa-apa.
Lalu, dari mana sumber uang? Saya yang bekerja, katanya.
Apa pekerjaannya? Tukang parkir. Ia bekerja di pasar sayur sepulang sekolah. Maka jangan heran, bila dalam tasnya pada hari-hari tertentu akan ditemukan baju kaos rumahan. Karena sepulang sekolah ia akan langsung ke pasar tanpa pulang dulu ke rumah. Sampai jam berapa bekerja? Ia akan bekerja sampai menjelang tengah malam. Jika ia tak ada kawan yang akan menemani pulang, maka lepas subuh ia kembali ke rumah. Membawa sekitar 50 sd 100 ribu rupiah untuk kehidupan keluarganya.
Kapan makan? saya bertanya lagi. Makan kadang ketika di pasar (malam hari). Atau kalau tak dapat, ia akan makan di sekolah lagi. Saat pergantian jam pelajaran. Berharap saat ia pulang ada yang akan dimakan?? tentu tidak. Karena yang dibawanya pulang hanyalah uang. Syukur-syukur kalau ia sempat belanja, dan memasakkan untuk adik-adiknya. Kalau tidak, uang itu sajalah yang akan diberikannya kepada ibunya. Susah payah pula ibunya akan memasak untuknya beradik tiga itu.
Maka, sekedar "sarapan pagi"kah yang akan dijawabnya?? Ini jelas lebih rumit dari sekedar sarapan pagi.
Wahai. Demikian benar alam ini buat belajar anak manusia. Satu per satu saya kenali siswa, dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati, kemudian miris, sedih, dan entahlah.
Waktu belajar yang benar-benar menyita ini, ingin saya kurangi, untuk mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin juga, untuk mereka yang bisa mengabdi, dan berorganisasi bersama masyrakat. Atau berkreatifitas pada hobi positifnya. Sayang sekali, sekolah bukan punya kita. Kurikulum juga sudah demikian membebankan komponennya. Sesungguhnya, sekolah bukanlah di sekolah saja. Sekolahkanlah sosialmu di masyarakat. Sekolahkan hati dan keyakinan di mesjid atau surau. Sekolahlah di alam, dengan kenyataan, bahwa sebagian mereka jangankan memikirkan sarapan, untuk kehidupanlah yang ditanggungkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar