Inilah kenapa saya kadang tak sepakat dengan pengotakan siswa menjadi kelas unggul satu, kelas unggul dua, dan seterusnya. Seakan-akan ada kesempatan bagi guru dan siswa untuk mengotak kotakkan dirinya masing-masing, untuk sekedar memuji atau mencaci kepada kelompok mana mereka termasuk. Unggulkah, atau sebaliknya.
Sekolah-sekolah negeri di Indonesia saat ini secara umum menggunakan sistem kelas. Kelas dalam hal ini dapat dipahami dengan sekelompok siswa yang menghadapi sejumlah mata pelajaran tertentu di sekolah. Kelas kemudian dibimbing oleh sejumlah guru mata pelajaran dan satu orang wali kelas.
Jumlah siswa dalam satu kelas kecil mencapai 25 siswa, sedangkan untuk kelas besar hanya diizinkan sebanyak 32 orang siswa. Namun tak sedikit sekolah yang berani mengambil resiko, melebihkan isi kelas dari standar yang telah ditetapkan. Memadatkan lagi dan "menambah bangku". Dengan jumlah 25 orang siswa, suasana belajar kelas tentu akan lebih kondusif. Tidak terlalu ribut, tak banyak 'cencong' pula.
Pada kelas dengan jumlah 32 orang siswa, tentu sebanyak kepala pula-lah laku dan perangai siswa. Jika pada kelas rata-rata (kelas yang tidak dikotak-kotak menjadi kelas unggul) maka dapat diperkirakan, sepertiga adalah siswa baik-baik, sepertiga lagi mereka yang biasa-biasa saja, dan sepertiga sisanya adalah siswa yang mungkin bisa dikategorikan berkebutuhan (perhatian) khusus. Sekali lagi, ini jika kelas tersebut merupakan kelas netral (perpaduan siswa unggul dan biasa).
Perhitungan menjadi berbeda, jika siswa diklasifikasikan berdasarkan kemampuan kognitif. Siswa dengan rangking 1-10 di kelas pertamanya, pada tingkat berikut akan digabung dengan kemampuan yang sama, dan dilabel dengan (unggul) 'satu'. Kemudian, siswa dengan rangking 11-20 pada kelas sebelumnya, akan digabung sesamanya pada kelas 'dua'. Maka isi kelas 'tiga' jelaslah mereka dengan rangking 21-akhir pada kelas sebelumnya.
Yang pertama saya nyatakan di sini adalah ketidak setujuan pada sistem 'rangking'. Tapi soal ini akan kita bicarakan di lain tulisan. Nah, munculnya tulisan ini adalah pada perkara kedua, kelas unggul satu dan dua, dan kelas 'tiga', ini yang meresahkan saya.
Bisa jadi pertimbangan mereka yang mengambil kebijakan adalah, agar siswa sesamanya akan mendapatkan motivasi belajar lebih jika bergabung denga kemampuan yang berimbang dengan siswa tersebut. Itu baru 'bisa jadi'. Teori bisa jadi saya juga memungkinkan. Bisa jadi, untuk kelas unggul, yang masing-masing siswanya sudah memiliki motivasi, tak butuh suntikan motivasi lagi dari guru dan kawan-kawannya. Karena obsesi yang mendesak dalam jiwa dan pikiran mereka sudahlah kuat.
Hal itu berkebalikan dengan kondisi kelas 'tiga'. Kelas dimana, para siswa 'kreatif ' berkumpul. Mereka yang kreatif mencari jalan pintas, agar tugas tak ribet, waktu tak banyak 'terbuang', guru tak bertahan lama di kelas, dan selalu ada 'tawa' yang menghidupkan suasana. Kondisi ini membuat sebagian guru gerah. Tak siap menghadapi siswa 'berkebutuhan khusus' tersebut. Maka sebagiannya, memberi label 'nakal', bahkan 'kurang ajar' kepada siswa multi ide itu.
Konsekuensinya adalah, perlakuan diskriminatiflah yang diterima siswa. Beruntunglah mereka yang berada di unggul satu, dan merugilah mereka yang berada di 'unggul' tiga. Ibarat pepatah, berkawan dengan penjual minyak wangi, wangi pula lah kita. Berkawan dengan pandai besi mungkin pula terbakar baju dibuatnya. Dinamika kelas menjadi tak imbang. Kemampuan analisa tak beragam.
Ini adalah kali kedua bagi saya mendapat jatah 'mengasuh' kelas khusus. Meski dengan sebab yang berbeda, secara umum yang bermasalah dengan kelas unggul 'tiga' ini adalah motivasi belajar, di samping kompleknya persoalan yang dihadapi masing-masing anak.
Sayangnya, sedikit diskriminatif juga terlihat pada penjadwalan. Mata pelajaran pokok, diberikan pada waktu-waktu yang tepat pada kelas unggul. Apalah yang terpikir bagi 'unggul tiga' belajar matematika pada jam sembilan dan ke sepuluh sekitar jam 2 sd 4 siang. Ah, semua kadang tak sama terpikirkan - dipertimbangkan.
Saya membayangkan, jika satu kelas terisi dengan 25 siswa dengan beragam kemampuan kognitif. Silakan saja, di sana ada juara satu 'kreatifnya', juara 1 olahraganya, juara satu pengabdian masyarakatnya, tak apa. Cukup bagi rata saja, beberapa menyukai matematika, menyukai pelajaran hafalan, dan lain sebagainya. Saya kira itu akan lebih mudah memunculkan kepercayaan diri siswa, bahwa mereka masing-masing memiliki kelebihan. Lebih menyenangkan menggali potensi dalam diri mereka, daripada mereka terkotak dan dapat perlakuan diskriminatif begitu.
Barangkali saya butuh waktu lebih banyak bersama mereka untuk bisa membangun motivasi belajar, mengetahui gaya belajar, membimbing cara belajar, mendengarkan persoalan-persoalan yang membenak hingga ke sekolah, dan tentu saja, butuh kerja sama dengan orang tuanya.dan, bagaimana hasilnya kemudian? Kita lihat saja.
Jumlah siswa dalam satu kelas kecil mencapai 25 siswa, sedangkan untuk kelas besar hanya diizinkan sebanyak 32 orang siswa. Namun tak sedikit sekolah yang berani mengambil resiko, melebihkan isi kelas dari standar yang telah ditetapkan. Memadatkan lagi dan "menambah bangku". Dengan jumlah 25 orang siswa, suasana belajar kelas tentu akan lebih kondusif. Tidak terlalu ribut, tak banyak 'cencong' pula.
Pada kelas dengan jumlah 32 orang siswa, tentu sebanyak kepala pula-lah laku dan perangai siswa. Jika pada kelas rata-rata (kelas yang tidak dikotak-kotak menjadi kelas unggul) maka dapat diperkirakan, sepertiga adalah siswa baik-baik, sepertiga lagi mereka yang biasa-biasa saja, dan sepertiga sisanya adalah siswa yang mungkin bisa dikategorikan berkebutuhan (perhatian) khusus. Sekali lagi, ini jika kelas tersebut merupakan kelas netral (perpaduan siswa unggul dan biasa).
Perhitungan menjadi berbeda, jika siswa diklasifikasikan berdasarkan kemampuan kognitif. Siswa dengan rangking 1-10 di kelas pertamanya, pada tingkat berikut akan digabung dengan kemampuan yang sama, dan dilabel dengan (unggul) 'satu'. Kemudian, siswa dengan rangking 11-20 pada kelas sebelumnya, akan digabung sesamanya pada kelas 'dua'. Maka isi kelas 'tiga' jelaslah mereka dengan rangking 21-akhir pada kelas sebelumnya.
Yang pertama saya nyatakan di sini adalah ketidak setujuan pada sistem 'rangking'. Tapi soal ini akan kita bicarakan di lain tulisan. Nah, munculnya tulisan ini adalah pada perkara kedua, kelas unggul satu dan dua, dan kelas 'tiga', ini yang meresahkan saya.
Bisa jadi pertimbangan mereka yang mengambil kebijakan adalah, agar siswa sesamanya akan mendapatkan motivasi belajar lebih jika bergabung denga kemampuan yang berimbang dengan siswa tersebut. Itu baru 'bisa jadi'. Teori bisa jadi saya juga memungkinkan. Bisa jadi, untuk kelas unggul, yang masing-masing siswanya sudah memiliki motivasi, tak butuh suntikan motivasi lagi dari guru dan kawan-kawannya. Karena obsesi yang mendesak dalam jiwa dan pikiran mereka sudahlah kuat.
Hal itu berkebalikan dengan kondisi kelas 'tiga'. Kelas dimana, para siswa 'kreatif ' berkumpul. Mereka yang kreatif mencari jalan pintas, agar tugas tak ribet, waktu tak banyak 'terbuang', guru tak bertahan lama di kelas, dan selalu ada 'tawa' yang menghidupkan suasana. Kondisi ini membuat sebagian guru gerah. Tak siap menghadapi siswa 'berkebutuhan khusus' tersebut. Maka sebagiannya, memberi label 'nakal', bahkan 'kurang ajar' kepada siswa multi ide itu.
Konsekuensinya adalah, perlakuan diskriminatiflah yang diterima siswa. Beruntunglah mereka yang berada di unggul satu, dan merugilah mereka yang berada di 'unggul' tiga. Ibarat pepatah, berkawan dengan penjual minyak wangi, wangi pula lah kita. Berkawan dengan pandai besi mungkin pula terbakar baju dibuatnya. Dinamika kelas menjadi tak imbang. Kemampuan analisa tak beragam.
Ini adalah kali kedua bagi saya mendapat jatah 'mengasuh' kelas khusus. Meski dengan sebab yang berbeda, secara umum yang bermasalah dengan kelas unggul 'tiga' ini adalah motivasi belajar, di samping kompleknya persoalan yang dihadapi masing-masing anak.
Sayangnya, sedikit diskriminatif juga terlihat pada penjadwalan. Mata pelajaran pokok, diberikan pada waktu-waktu yang tepat pada kelas unggul. Apalah yang terpikir bagi 'unggul tiga' belajar matematika pada jam sembilan dan ke sepuluh sekitar jam 2 sd 4 siang. Ah, semua kadang tak sama terpikirkan - dipertimbangkan.
Saya membayangkan, jika satu kelas terisi dengan 25 siswa dengan beragam kemampuan kognitif. Silakan saja, di sana ada juara satu 'kreatifnya', juara 1 olahraganya, juara satu pengabdian masyarakatnya, tak apa. Cukup bagi rata saja, beberapa menyukai matematika, menyukai pelajaran hafalan, dan lain sebagainya. Saya kira itu akan lebih mudah memunculkan kepercayaan diri siswa, bahwa mereka masing-masing memiliki kelebihan. Lebih menyenangkan menggali potensi dalam diri mereka, daripada mereka terkotak dan dapat perlakuan diskriminatif begitu.
Barangkali saya butuh waktu lebih banyak bersama mereka untuk bisa membangun motivasi belajar, mengetahui gaya belajar, membimbing cara belajar, mendengarkan persoalan-persoalan yang membenak hingga ke sekolah, dan tentu saja, butuh kerja sama dengan orang tuanya.dan, bagaimana hasilnya kemudian? Kita lihat saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar